Pada tanggal 23 April
diperingati hari buku, maka tergambarlah objek bacaan dalam pikiran kita. Buku merupakan wahana rekreasi
keseluruh dunia sehingga buku dijuluki sebagai jendela dunia. Peminat dari buku
bukan hanya kalangan pelajar saja, namun dari berbagai kalangan dapat membaca
buku tanpa pandang bulu rendah atau tinggi pendidikannya. Manfaat dari buku
tidaklah ubahnya seperti manfaat air bagi kehidupan. Buku terus mengalir dari
golongan manapun sehingga buku dapat dikatakan seperti alat pemersatu bagi
kehidupan sosial, buku juga sebagai pembentuk kerangka berpikir bagi setiap
manusia yang menekuninya. Tujuan dari buku melahirkan berupa output yang sering
kita katakan sebagai ilmu. Selaras dengan yang diucapkan oleh seorang Founding
Father Republik Indonesia bahwa Ilmu hanyalah ilmu sejati jikalau ilmu itu
ialah untuk membawa kebahagiaan kepada manusia. Sukarno sendiri merupakan
seorang kutu buku. Ketika dimasa perjuangan banyak sekali contoh dari para kaum
intelektual yang bersekolah diBelanda berjuang dalam kancah politik untuk
memerdekakan bangsa Indonesia referensi utamanya adalah buku, bahkan buku
merupakan sahabat sejatinya. Seperti bung Hatta, bung Hatta merupakan pelajar
yang berada diBelanda pada masa itu, gaya pikiran dipengaruhi oleh bacaan
bacaan yang masuk keakar permasalahan bangsa Indonesia bahkan dalam memotori
gerakan yang dibangun Hatta dan kawan kawan diBelanda, beliau sering sekali
meminjamkan bukunya kepada rekan rekan sejawatnya agar mengerti tentang konteks
permasalahan yang sedang melanda Negeri mereka. Bukan hanya Bung Hatta saja,
seperti halnya Kartini, dalam prosesnya menjadi seorang Emansipator Wanita,
beliau merupakan intelektual yang akrab sekali dengan buku. Implementasi dari
apa yang didapatkan beliau hingga sekarang masih tetap dikenang dengan
membangun kerangka berpikir yang sangat berguna bagi para wanita. Perjuangan
untuk mendapatkan buku pada masa pra-kemerdekaan tidaklah mudah, bukan seperti
sekarang. Pada masa perjuangan buku buku yang diberi masuk ke Indonesia
dibatasi kajiannya. Apabila buku buku yang diedarkan merupakan buku buku
tentang politik dan mengarahkan pemikiran untuk kesadaran penindasan dengan
segera kolonial akan menghentikan laju peredarannya sejalan dengan pernyataan
Tan Malaka bahwa seorang pejuang haruslah dekat dengan pustaka (buku). Sehingga
buku merupakan napak tilas dari garis perjuangan pada pra-kemerdekaan. Manfaat
buku bukan hanya bersifat positif dan mulia saja, dibeberapa dekade
kesejarahan. Buku merupakan alat pengendali pengetahuan, hal ini agar kelas
penguasa yang memiliki kepentingan tertentu tidak tersentuh dengan sentilan
sentilun intelektual. Contoh dari
penyelewangan pada era Reformasi mulai banyak terbit, bahkan data data yang
disajikan membuat kebingungan para penikmat buku dalam membacanya. Menurut data
di Sumatera Utara, media cetak yang beredar pada tahun 1920 sampai dengan 1945
sekitar 177 media cetak. Hubungan media cetak dengan buku sangat erat, seorang
penulis yang menerbitkan tulisannya dalam media cetak tidaklah bisa terlepas
dari kajian ilmiahnya, sehingga buku merupakan tolak ukur dalam keabsahan data
data yang disajikan.
Memudarnya
Budaya Membaca.
Dari data media cetak
yang terbit pra-kemerdekaan antusias dari masyarakat dapat dikatakan
signifikan. Dewasa ini perihal membaca dalam konteks buku dan media cetak
tampak menurun. Keinginan menulis dalam media cetak dan membaca media cetak
sudah tergeser dari porsinya. Ketika membaca banyak hal yang kemungkinan tidak
diketahui sehingga dapat memadukan dengan realitas realitas yang sehari hari
terus dijalani. Pudarnya minat membaca dan menulis kalangan intelektual
kemungkinan dipengaruhi oleh kesejarahan pemerintahan pada masa Orde Baru
dimana untuk mengeluarkan pendapat memerlukan pengkajian bahan yang tidak
terkesan melawan pemerintahan, agar tidak menjadi boomerang bagi dirinya.
Sehingga media cetak hanya berkontribusi pada gagasan gagasan kebaikan ala
pemerintah dan tidak lagi menjadi penyambung lidah rakyat. Contoh kongkret
diera sekarang dilihat dengan besarnya penurunan media cetak di Sumatera utara
yang ada sekarang ini, media cetak tidak sampai hingga melebihi data
pra-kemerdekaan. Sehingga mengharuskan timbulnya pertanyaan yang tersimpan
dalam memori, mengapa bisa terjadi penurunan yang sangat drastis dalam minat
membaca yang dahulu adalah budaya bangsa ini?
Penurunan budaya
membaca sejalan dengan lajunya jalan globalisasi. Peminat membaca menurun
secara berkala dengan semakin maraknya barang barang praktis yang tersedia.
Gambaran umum memang tidak didapati ketika menabrak konteks globalisasi, namun
hal ini sejalan dengan semakin konsumtifnya masyarakat dalam menyambut uluran
tangan dari globalisasi. Dahulunya perpustakaan merupakan tempat pertemuan bagi
setiap kalangan, baik yang pacaran, membaca buku dan ngobrol pintar yang
efektif,tetapi diera modern hal itu bergeser. Tempat perkumpulan yang lebih
asik dan menarik merupakan pusat perbelanjaan yang konon bila melakukan
kunjungan ke tempat tersebut akan menghabiskan uang yang cukup banyak, dengan
berbelanja produk produk terbaru. Tetapi hal itersebut bukanlah halangan bagi
para konsumerian. Permasalahan beruntun lagi dengan tanda tanda maraknya
jaringan komunikasi canggih yang biasa disebut smartphone. Dalam penggunaannya
smartphone bagi kalangan pebisnis kelas atas merupakan hal yang wajar apalagi
pebisnis bergaya kapitalis yang mengharuskan smartphone untuk melihat kurva
kurs setiap detiknya. Namun sekarang smartphone yang begitu mahalnya menjadi
milik hampir separuh mahasiswa kelas terpelajar agar konon katanya dapat
memudahkan dalam mencari bahan bahan tugas kuliah mereka. Fungsi praktis tersebut
mengarahkan pemikiran untuk hanya memenuhi kebutuhan seperlunya saja.
Permasalahan tersebut mengarahkan pergeseran pada minat membaca, karena membaca
merupakan kebutuhan yang tidak harus ditepati. Membaca menghabiskan waktu.
Membaca adalah hal yang membosankan. Langkah tersebut tanpa disadari menjauhkan
keakraban dengan buku. Sehingga buku bukan lagi menjadi sahabat akrab bagi para
mahasiswa modern. Alangkah baiknya apabila pemerintah menekan laju gejala
konsumtif yang sudah merambah disetiap kalangan. Tidaklah perlu sampai
menghentikan lajunya globalisasi. Hanya saja perlu adanya kesadaran yang besar
dari pergeseran pergeseran yang terjadi pada budaya membaca dengan cara
menyandingkan inovasi modern bagi perpustakaan atau tempat apa saja yang
menjadi wahana membaca agar tidak terjadinya pembangungan besar besaran museum
buku. Buku menjadi fosil dan tidak lagi merupakan kebutuhan kongkret akan
tantangan masa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar