Minggu, 24 Agustus 2014

Pudarnya budaya membaca

Pada tanggal 23 April diperingati hari buku, maka tergambarlah objek bacaan dalam  pikiran kita. Buku merupakan wahana rekreasi keseluruh dunia sehingga buku dijuluki sebagai jendela dunia. Peminat dari buku bukan hanya kalangan pelajar saja, namun dari berbagai kalangan dapat membaca buku tanpa pandang bulu rendah atau tinggi pendidikannya. Manfaat dari buku tidaklah ubahnya seperti manfaat air bagi kehidupan. Buku terus mengalir dari golongan manapun sehingga buku dapat dikatakan seperti alat pemersatu bagi kehidupan sosial, buku juga sebagai pembentuk kerangka berpikir bagi setiap manusia yang menekuninya. Tujuan dari buku melahirkan berupa output yang sering kita katakan sebagai ilmu. Selaras dengan yang diucapkan oleh seorang Founding Father Republik Indonesia bahwa Ilmu hanyalah ilmu sejati jikalau ilmu itu ialah untuk membawa kebahagiaan kepada manusia. Sukarno sendiri merupakan seorang kutu buku. Ketika dimasa perjuangan banyak sekali contoh dari para kaum intelektual yang bersekolah diBelanda berjuang dalam kancah politik untuk memerdekakan bangsa Indonesia referensi utamanya adalah buku, bahkan buku merupakan sahabat sejatinya. Seperti bung Hatta, bung Hatta merupakan pelajar yang berada diBelanda pada masa itu, gaya pikiran dipengaruhi oleh bacaan bacaan yang masuk keakar permasalahan bangsa Indonesia bahkan dalam memotori gerakan yang dibangun Hatta dan kawan kawan diBelanda, beliau sering sekali meminjamkan bukunya kepada rekan rekan sejawatnya agar mengerti tentang konteks permasalahan yang sedang melanda Negeri mereka. Bukan hanya Bung Hatta saja, seperti halnya Kartini, dalam prosesnya menjadi seorang Emansipator Wanita, beliau merupakan intelektual yang akrab sekali dengan buku. Implementasi dari apa yang didapatkan beliau hingga sekarang masih tetap dikenang dengan membangun kerangka berpikir yang sangat berguna bagi para wanita. Perjuangan untuk mendapatkan buku pada masa pra-kemerdekaan tidaklah mudah, bukan seperti sekarang. Pada masa perjuangan buku buku yang diberi masuk ke Indonesia dibatasi kajiannya. Apabila buku buku yang diedarkan merupakan buku buku tentang politik dan mengarahkan pemikiran untuk kesadaran penindasan dengan segera kolonial akan menghentikan laju peredarannya sejalan dengan pernyataan Tan Malaka bahwa seorang pejuang haruslah dekat dengan pustaka (buku). Sehingga buku merupakan napak tilas dari garis perjuangan pada pra-kemerdekaan. Manfaat buku bukan hanya bersifat positif dan mulia saja, dibeberapa dekade kesejarahan. Buku merupakan alat pengendali pengetahuan, hal ini agar kelas penguasa yang memiliki kepentingan tertentu tidak tersentuh dengan sentilan sentilun intelektual.  Contoh dari penyelewangan pada era Reformasi mulai banyak terbit, bahkan data data yang disajikan membuat kebingungan para penikmat buku dalam membacanya. Menurut data di Sumatera Utara, media cetak yang beredar pada tahun 1920 sampai dengan 1945 sekitar 177 media cetak. Hubungan media cetak dengan buku sangat erat, seorang penulis yang menerbitkan tulisannya dalam media cetak tidaklah bisa terlepas dari kajian ilmiahnya, sehingga buku merupakan tolak ukur dalam keabsahan data data yang disajikan.
Memudarnya Budaya Membaca.
Dari data media cetak yang terbit pra-kemerdekaan antusias dari masyarakat dapat dikatakan signifikan. Dewasa ini perihal membaca dalam konteks buku dan media cetak tampak menurun. Keinginan menulis dalam media cetak dan membaca media cetak sudah tergeser dari porsinya. Ketika membaca banyak hal yang kemungkinan tidak diketahui sehingga dapat memadukan dengan realitas realitas yang sehari hari terus dijalani. Pudarnya minat membaca dan menulis kalangan intelektual kemungkinan dipengaruhi oleh kesejarahan pemerintahan pada masa Orde Baru dimana untuk mengeluarkan pendapat memerlukan pengkajian bahan yang tidak terkesan melawan pemerintahan, agar tidak menjadi boomerang bagi dirinya. Sehingga media cetak hanya berkontribusi pada gagasan gagasan kebaikan ala pemerintah dan tidak lagi menjadi penyambung lidah rakyat. Contoh kongkret diera sekarang dilihat dengan besarnya penurunan media cetak di Sumatera utara yang ada sekarang ini, media cetak tidak sampai hingga melebihi data pra-kemerdekaan. Sehingga mengharuskan timbulnya pertanyaan yang tersimpan dalam memori, mengapa bisa terjadi penurunan yang sangat drastis dalam minat membaca yang dahulu adalah budaya bangsa ini?
Penurunan budaya membaca sejalan dengan lajunya jalan globalisasi. Peminat membaca menurun secara berkala dengan semakin maraknya barang barang praktis yang tersedia. Gambaran umum memang tidak didapati ketika menabrak konteks globalisasi, namun hal ini sejalan dengan semakin konsumtifnya masyarakat dalam menyambut uluran tangan dari globalisasi. Dahulunya perpustakaan merupakan tempat pertemuan bagi setiap kalangan, baik yang pacaran, membaca buku dan ngobrol pintar yang efektif,tetapi diera modern hal itu bergeser. Tempat perkumpulan yang lebih asik dan menarik merupakan pusat perbelanjaan yang konon bila melakukan kunjungan ke tempat tersebut akan menghabiskan uang yang cukup banyak, dengan berbelanja produk produk terbaru. Tetapi hal itersebut bukanlah halangan bagi para konsumerian. Permasalahan beruntun lagi dengan tanda tanda maraknya jaringan komunikasi canggih yang biasa disebut smartphone. Dalam penggunaannya smartphone bagi kalangan pebisnis kelas atas merupakan hal yang wajar apalagi pebisnis bergaya kapitalis yang mengharuskan smartphone untuk melihat kurva kurs setiap detiknya. Namun sekarang smartphone yang begitu mahalnya menjadi milik hampir separuh mahasiswa kelas terpelajar agar konon katanya dapat memudahkan dalam mencari bahan bahan tugas kuliah mereka. Fungsi praktis tersebut mengarahkan pemikiran untuk hanya memenuhi kebutuhan seperlunya saja. Permasalahan tersebut mengarahkan pergeseran pada minat membaca, karena membaca merupakan kebutuhan yang tidak harus ditepati. Membaca menghabiskan waktu. Membaca adalah hal yang membosankan. Langkah tersebut tanpa disadari menjauhkan keakraban dengan buku. Sehingga buku bukan lagi menjadi sahabat akrab bagi para mahasiswa modern. Alangkah baiknya apabila pemerintah menekan laju gejala konsumtif yang sudah merambah disetiap kalangan. Tidaklah perlu sampai menghentikan lajunya globalisasi. Hanya saja perlu adanya kesadaran yang besar dari pergeseran pergeseran yang terjadi pada budaya membaca dengan cara menyandingkan inovasi modern bagi perpustakaan atau tempat apa saja yang menjadi wahana membaca agar tidak terjadinya pembangungan besar besaran museum buku. Buku menjadi fosil dan tidak lagi merupakan kebutuhan kongkret akan tantangan masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar